jump to navigation

Puisi sebagai ikhtiar yang jujur June 7, 2009

Posted by ayuprameswary in Ulas Buku.
trackback

Pemenang Lomba Ulas Buku ‘Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya’ (Gunawan Maryanto)

Oleh: Amang Suramang
“Bagaimanakah puisi ditulis?”

Puisi pertama-tama ditulis dengan kata. Kata, yang mula-mula hanya berupa bunyi, mengalami proses evolusi sehingga menjadi aksara, suatu proses yang memberi pengaruh luar biasa terhadap akumulasi ilmu pengetahuan, perkembangan cara bepikir, dan cara bagaimana nantinya kita menafsirkan sekeliling kita. Demikian bertahun-tahun bunyi ini dipenjarakan dalam satu bentukan yang artinya kita sepakati bersama. Dengan aksara-aksara yang berubah menjadi kata inilah, kemudian orang masuk ke dalam dirinya sendiri, menggubah perasaan dan pikirannya, mengeluarkannya lagi dalam bentuk puisi.

“Untuk apakah puisi ditulis?” Ketika puisi dituliskan, kita akan bersinggungan lagi dengan rima, aliterasi, asonansi, irama, dan repetisi, yang lagi-lagi semua berkaitan dengan bunyi — asal-muasal kata. Boleh jadi jawaban atas untuk apakah puisi ditulis adalah untuk menggetarkan gendang perasaan yang membacanya. Puisi bergetar pada resonansi tertentu, yang dengan cara itulah bunyi-bunyi akhirnya terbebaskan, mengurai ke udara, menyatu dengan semesta dan bisa jadi sampai atau tidak sampai ke telinga dan perasaan. Dengan demikian, bila dibandingkan dengan genre lain, puisi tampaknya memang masih bersandar ke bunyi: mulai dari gaya pantun lama sampai ke tembang, puisi lama hingga baru, sejatinya tetap tunduk pada hakikat kelisanannya, yakni bunyi.

Dua topik ini yang senantiasa aku ingat setiap kali hendak membaca puisi: sungguhpun sulit mengacu padanya karena selama tahun-tahun sebelumnya aku sendiri membaca puisi yang kaidah bentuk sudah mengatasi bunyi sehingga puisi hadir sebagai sajian visual bagiku, lalu puisi yang kaidah diksinya mengatasi segalanya sehingga menjadi puisi yang sulit untuk dapat didengar, lalu seberang-menyebrang penulisan puisi semacam prosa (bukan lagi mendekati) sehingga sempat aku mengemohi membaca puisi, meskipun sungguh puisi itu bagai candu bagi kalbu.

Maka, menurutku harusnya usai pertanyaan yang menggelikan itu: inovasi dari puisi. Mau dibuat bagaimana lagikah puisi? Seperti halnya lagu yang mengenal tangga nada, berbagai gubahan sudah ditulis. Lalu masihkah ada yang masih menantikan bentuk baru dari lagu? Bukankah indah bila tetap saja berpegang pada esensi puisi itu sendiri, yang dirumuskan demikian indah oleh temanku Gieb, “puisi adalah sebuah ikhtiar paling jujur yang dimiliki seorang manusia untuk menggenapkan perasaannya.”

Pada kita telah diserakkan ikhtiar-ikhtiar yang ditulis oleh Gunawan Maryanto, yang oleh teman-temannya akrab dipanggil dengan mas Cindhil. Ikhtiar-ikhtiar yang dituliskannya ini tampaknya tidak hendak dilepaskan dari teks yang sudah ada sebelumnya. Bahkan dalam beberapa puisi yang ditulisnya seperti “Banowati”, “Bagong”, “Aswatama”, dan dua puisi tentang Gandari, dapat kita lihat komponen utamanya adalah kisah pewayangan berikut penokohan dan alurnya. Dengan begitu imajinatif sekaligus emotif, Gunawan Maryanto menceritakan Gandari yang melahirkan 100 tokoh Kurawa dari dirinya yang disebutnya anak-anak kegelapan dan berteriak:

Pandu, tunggulah! / Kini aku punya seratus jari yang menuding kearahmu / Seratus jari yang akan mengejar / seluruh darah yang mengalir dari mata airmu

Seratus jari yang bergetar ini tak akan berhenti bergetar / sedetik pun hingga darah yang menggenang di padang kuru / entah darahku atau darahmu

(“Gandari di Puncak Kegelapan”, 2007)

Bukan hanya teaterikal visual yang dituliskannya, tetapi bagaimana puisinya berhasil mengangkat murka seseorang, satu dari sekian makna yang lahir dari puisi Gunawan Maryanto. Puisi lain bermakna lain soal cinta, keputusasaan, kerinduan yang tentu saja bisa ditemui dalam karya-karya orang lain, tapi yang membedakan karyanya adalah cara Gunawan mengungkapkannya.

Keputusasaan, sekaligus harapan, dituliskan dengan demikian:

1
baiklah. kujalani saja kutukan ini
akan kutulis seribu perasaan tentangmu
mulai pagi ini hingga kelak
ketika burung-burung itu tak lagi bersarang di rambutmu
saat itulah semua berakhir

1.1

juga diriku: mencair,
menjelma sungai, tak sanggup kauseberangi
menjadi kesedihan, kaukenang sepanjang jalan

1.2
juga dirimu: mencair,
datang tiap musim penghujan
dengan curah yang tetap, tak berubah

1.1.1
perasaan, aku tak ingin berlebihan
tapi pernahkah kita kosong. benar-benar kosong
datar tanpa tekanan. tetap. tak berlebihan. tanpa emosi
tak ada sama sekali, bahkan untuk sebaris puisi

(“Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya”, 2007)

Kalau boleh menyebut apa yang aku suka dari karya-karya Gunawan Maryanto ini adalah ada kekuatan prosa di dalam baris-baris puisinya, yang menjadi penyangga kuat bagi puisinya. Puisinya bukan bualan emosi, sekedar “curhat” tanpa ujung. Puisinya jelas, sejelas barisan-barisan kata yang dicetakkan di buku ini.

Satu hal yang kalau boleh disayangkan adalah bahwa buku puisi ini harus menjalani pilihan bertahan di ranah perbukuan yang kejam dengan sistem Print-on-Demand (PoD). Satu cara yang dipilih untuk berkelit dari kutukan tiga ribu eksemplar. Kalau demikian, pedih sekali nasib buku-buku puisi kita.

Amang Suramang

Comments»

1. Juniar - June 28, 2009

Terima kasih atas reviewnya. Jadi tertarik untuk memesan.

2. ketoles - March 7, 2010

terima kasih nice info


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: