jump to navigation

Resensi Prosa ‘Suara Tengah Malam’ April 14, 2009

Posted by perkosakata in Resensi Karya.
trackback

Oleh Ika Natassa

Suara Tengah Malam oleh Dadun

Penulisan cerpen menurut saya dapat diibaratkan seperti TV spot berdurasi kurang dari 10 detik: pemilihan point of view, jenis narasi, dan packaging cerita harus dapat menarik perhatian pemirsa/pembaca dalam hitungan detik.  Sangat berbeda dengan penulisan novel di mana penulis memiliki celah waktu lebih panjang untuk membangun mood dan menggiring pembaca menuju klimaks cerita.  Titik kesuksesan sebuah cerpen terletak pada momen ketika pembaca tiba di kalimat terakhir dan bereaksi: “That’s it?  I want more!!” Ketika sekelumit peristiwa yang kita angkat sebagai cuplikan pendek ditangkap oleh pembaca sebagai trailer “You think this is good?  Wait til you read more.”

Mungkin karena itulah, pilihan saya jatuh kepada Suara, cerita pendek yang awalnya saya pikir mengangkat tema yang terlalu sederhana namun tetap mampu membuat saya penasaran dengan pemilihan kata yang lugas dan pacing plot yang kencang namun efektif.  Who could have thought that you could mix such a popular issue like society’s addiction to mobile communication and the not-so-high-up-the-radar reality like the so-called bipolar personality? Pengusungan tema bipolar atau manic depression ini sendiri bukanlah suatu hal yang eksklusif – Nova Riyanti Yusuf mengolah kepingan yang sama melalui novel Mahadewa Mahadewi, kemudian ada Sekar Ayu Asmara melalui Pintu Terlarang dan Belahan Jiwa, atau Michael Cooney melalui naskah film Identity.  Namun, pengusungan tema repetitif seperti ini justru dapat dimanfaatkan penulis untuk men-challenge dirinya sendiri melalui cara penceritaan yang berbeda, or it gets too predictable and mundane.  Setiap penulis yang saya sebut di atas berhasil menyergap pembaca/penonton dengan packaging yang berbeda: Nova dengan sudut pandang psikiatri dalam Mahadewa Mahadewi, Sekar dengan surreal escapism seorang pasien schizophrenia dalam Pintu Terlarang dan duplikasi interaksi tumpang tindih dalam Belahan Jiwa, dan Michael melalui violent description pembunuhan multiple characters di dalam kepala seorang kriminal dalam Identity.

Dalam Suara, Dadan Erlangga juga telah dianugerahi insting untuk memotret cerita dari sudut pandang yang fresh tanpa eksekusi berlebihan atas efek kejut dari isu yang diangkat.  Di luar pemilihan beberapa kata yang masih raw, Suara bagi saya bukanlah sekedar cerpen, ini merupakan bab pertama dari sebuah novel yang saya yakin akan membuat pembacanya keep wanting for more. I, personally, want to read more.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: