jump to navigation

Resensi Prosa ‘Pasupati, Kau dan Aku’ April 13, 2009

Posted by perkosakata in Resensi Karya.
trackback

Oleh Primadonna Angela

Pasupati, Kau dan Aku oleh Dadun

Kata Pasupati sendiri sudah cukup memberikan gambaran, terutama bagi yang familier dengan Bandung. Dan cerpen yang satu ini memilih menjadikan jembatan layang ini sebagai latar berkembangnya hubungan dua orang manusia.

Sebagai awal, saya pikir sudah cukup menarik, menunjukkan kontras dari kedua tokoh utama. Meskipun tidak terlalu jelas bulan seperti apa yang ditunjuk karakter pertama (purnamakah?), namun ini sudah menunjukkan kedua tokoh memiliki pandangan yang berbeda. Yang pertama barangkali cenderung bersifat positif dan romantis sementara yang kedua terkesan negatif dan kelam.

Sayangnya begitu cerita bergulir, saya merasa semua terlalu datar, biasa saja, hanya merupakan perpanjangan dua karakter yang berbeda itu. Gaya bertutur yang terkesan nyastra sayangnya tidak diimbangi dengan narasi yang lugas. Beberapa dialog terkesan bertele-tele, seperti ini:

“Kebisingan dan sedikit ketegangan di sini akan memberimu kedamaian dalam bentuk lain,” meski kutahu kau hanya berusaha mengatasi ketakutanku waktu itu, “percayalah,” ya, aku percaya, bersamamu segalanya akan baik-baik saja.

Kecenderungan penulis untuk memanjang-manjangkan dialog dapat membahayakan inti cerita, karena pembaca mungkin akan bingung mencerna naskahnya. Lebih baik menulis dalam kalimat yang sederhana dan pendek untuk tetap memikat minat pembaca. Kalimat panjang di atas kalau dirombak menjadi beberapa kalimat tetap dapat terasa indah dan tidak mengganggu keseluruhan narasi:

“Kebisingan dan sedikit ketegangan di sini akan memberimu kedamaian dalam bentuk lain,” katamu saat itu. Aku tahu kau hanya berusaha mengatasi ketakutanku. Kutatap dirimu, khawatir, dan saat kau berkata, “Percayalah!” kecemasan dan ketakutanku menghilang, karena aku yakin bersamamu segalanya akan baik-baik saja.

Akhir yang seharusnya mengejutkan, bagi saya malah terasa terlalu biasa. Homoseksualitas sebagai shock factor sudah terlalu sering dilakukan sehingga tidak terasa mencengangkan lagi. Sekadar saran, barangkali akan lebih mengagetkan kalau ternyata dua karakter itu sebenarnya hanyalah satu orang, dan satunya lagi adalah imaginary friend. Atau, bahwa semua kejadian itu tidak pernah terjadi, dan menjelang akhir pembaca dikejutkan dengan fakta yang sangat berlawanan.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: