jump to navigation

Resensi Prosa “Cerita Pendek Tentang Sepasang Mata” March 30, 2009

Posted by perkosakata in Resensi Karya.
trackback

Oleh Ika Natassa

Cerita Pendek Tentang Sepasang Mata oleh Dadun

Buat saya, sebuah tulisan – apakah itu buku, cerita pendek, puisi, atau artikel – merupakan jendela yang membawa kita ke dunia privat milik si penulis. Di tingkat yang lebih tinggi lagi, sebuah tulisan merupakan penggambaran parallel universe yang membawa kita masuk ke dalam setiap sense yang dialami oleh sang karakter. The sense itself doesn’t have to make sense to the readers, karena membaca dengan sepenuh hati berarti membebaskan pikiran kita dan membiarkan diri kita masuk ke dalam dunia sang karakter tanpa pretensi apapun. Karena itulah seorang penulis seperti Chuck Palahniuk1 mampu mengobrak abrik logika dan toleransi perasaan yang dimiliki pembacanya, atau penulis seperti Daniel Keyes2 berhasil meletakkan kaki saya di sepatu seorang intellectually challenged yang harus mempersepsikan dunia sekelilingnya menjadi sesuatu yang baru saat kecerdasannya tiba-tiba meningkat. Dan karena itulah pula, saya personally lebih menggemari cerita dengan first point of view.

Di antara tiga karya yang ditawarkan kepada saya untuk mereview, pilihan saya jatuh kepada Cerita Pendek Tentang Sepasang Mata, sebuah cerita yang mengutilisasi first of point of view secara cukup efektif. Pemilihan kata yang brilian (frasa “beludak adrenalin” atau “pelabuhan ekspedisi visual”), pembangunan mood yang terjaga sejak awal, hingga detail-detail kecil yang semakin menenggelamkan pembacanya pada raung yang tengah didiami oleh sang karakter. Namun demikian di sisi lain, saya tidak antusias dengan adanya beberapa pengulangan pendeskripsian yang menurut saya terlalu sering untuk sebuah cerita pendek, seperti penekanan faktor rupiah sebagai penghambat potensial dalam situasi yang digambarkan oleh penulis.

Untuk seorang aspiring writer, cerita ini sedikit banyak telah berhasil menggelitik emosi pembacanya, dan membuat saya ikut tertegun saat membaca kalimat terakhir yang menjadi kalimat favorit saya: “saya akan berpura-pura menutup mata dari kenyataan bahwa hanya dalam beberapa menit saja, saya telah patah hati.”

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: