jump to navigation

Cinta est Magnifique March 30, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Lisa Febriyanti

… est Magnifique oleh me_everywhere

Apa arti cinta? Mengungkap kemesraan dengan kekasih, janji-janji atas kehidupan di masa depan, atau tangisan berkepanjangan? Tak ada jawaban yang benar-benar absolut. Karena cinta bukan matematika. Yang satu tambah satu haruslah dua. Tak ada kata harus dalam cinta. Ia akan tetap menjadi cinta tanpa perlu diungkapkan. Ia akan tetap ada tanpa bersiram kemesraan. Karena ia selalu punya bentuk lain untuk tetap bernyawa.

Lusiana Suwandi menampilkan definisi yang lain dari sebuah cinta. Dengan karyanya, …..Est Magnifique, Lusiana menggambarkan cinta dalam diam. Cinta yang tumbuh karena terbiasa bersama. Adi, sang tokoh utama, malam itu merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Asta, perempuan yang sering menjadi penumpang mobilnya karena rumah mereka berdekatan, sekolah mereka sama, dan kelas mereka di ruangan yang sama. Adi harus tahu menempatkan diri karena Asta sudah punya Josef. Lusiana menyebutnya sebagai dunia yang lain. Di dunia nyata, ada Josef. Dalam dunia lain, Adi boleh memanjakan rasanya. Inilah cinta.

Saya tidak tahu berapa usia Lusiana saat ini, tapi saya rasa Lusiana mampu menggambarkan peristiwa dan renik-reniknya, sesuai dengan usia tokohnya, yaitu 17 tahun. Mobil Suzuki Swift yang dipilihnya adalah jenis mobil yang memang disukai usia belasan tahun. Radio, pesta ulang tahun di hotel, skinny jeans, jelas menggambarkan geliat milik remaja.

Cinta atau tepatnya jatuh cinta adalah keindahan. Itu adalah pesan di awal kisah yang dirajut oleh Lusiana ini. Hingga, semua hal yang disapu cinta terlihat indah. Namun, saya melihat ada beberapa detail yang janggal dan agak berlebihan, seperti rentetan kalimat di bawah ini:

“Adi melirik pantulan dirinya sendiri lewat kaca spion. Wajah dan rambutnya sedikit kusut. Bagian depan kemeja beigenya pun sudah ternoda bercak-bercak kecokelatan yang sedikit mengganggu penglihatan gara-gara ada seseorang yang secara tidak sengaja menumpahkan sisa es krimnya ke sana.”

Menurut saya, kaca spion, apalagi di malam hari tidak mampu menampilkan bercak dengan jelas di bagian depan kemeja Adi. Selain, kaca spion memang terlalu sempit, kecuali jika memang diarahkan ke bagian tertentu, cahaya yang lindap rasanya kurang begitu menampakkan bercak itu.

Kejanggalan yang lain saya temui dalam kalimat di bawah ini:

”Tapi seperti yang ia tahu, dan seluruh dunia tahu, ia tidak akan bisa berlama-lama menikmatinya.”

Ada apa dengan seluruh dunia? Bukankah rasa ini masih juga terpendam, sehingga kenikmatan sejenak itu hanya di hati Adi?

Memang harus hati-hati dengan narasi yang detail. Permainan kata dalam bentuk naratif sebaiknya berfungsi sebagai penekanan peristiwa. Membuat visualisasi yang disejajarkan dengan kondisi real, sehingga pembaca bisa membayangkan peristiwa itu di depan matanya. Jika tak tepat, maka akan menjadi penganggu bagi rangkaian peristiwa yang ditampilkan.

Dalam penggunaan bahasa, Lusiana memilih bahasa yang ”lebih dewasa” ketimbang bahasa anak gaul yang menjadi tokoh utamanya. Plotnya yang memang mengalun, pas dengan bahasa yang digunakannya. Penggunaan bahasa asing menjadi warna bagi cerita ini. Akan lebih baik jika Lusiana juga menyisipkan artinya, bisa dalam bentuk dialog atau narasi dalam naskah. Bisa juga sebagai catatan kaki, agar pembaca masih bisa tetap mengikuti jalan cerita.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: