jump to navigation

Vaginalia, Perempuan dalam Konotasi Negatif March 16, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Wa Ode Wulan Ratna

Vaginalia oleh prince-adi

Fenomena sastra di Indonesia telah mencapai titik yang cukup signifikan untuk perkembangan sastra itu sendiri. Selain sebagai sebuah karya, sastra juga telah berkembang menjadi sebuah industri yang menjanjikan. Booming-nya beberapa karya fiksi membuka mata masyarakat kita bahwa kegiatan menulis bisa menjadi sebuah pekerjaan yang menjanjikan, hal ini telah membuat lahirnya penulis muda untuk berkarya. Namun demikian, apapun motif seseorang untuk terjun kedunia tulis- menulis merupakan satu hal yang baik di tengah minimnya kecenderungan masyarakat kita untuk membaca.

Di sisi lain perempuan penulis menjadi fenomena sastra Indonesia terkini yang banyak mengusung tema dan gaya penulisan khas perempuan. Setidaknya mereka menjadi angin segar bagi reragam sastra kontemporer karena memiliki teknik atau gaya penulisan yang berbeda dengan tema-tema yang sudah mapan. Karya sastra kontemporer lebih banyak mengangkat persoalan psikologis ketimbang persoalan-persoalan kemasyarakatan. Khusus untuk penulis perempuan tema yang diusung tidak jauh dari pengungkapan persoalan-persoalan diskriminasi perempuan.

Secara umum (gaya dan tema), membaca Vaginalia akan mengingatkan kita pada karya-karya Djenar Maesa Ayu. Ada kesan shocking yang disampaikan penulisnya lewat dualisme hitam dan putih di mana hitam –konotasi negatif yang dibentuk oleh konstruksi sosial-  menjadi sorot penceritaan atau tepatnya pembelaan, sebuah pemaknaan ulang terhadap konsep yang telah ada. Dalam Vaginalia dualisme tersebut terlihat dari simbolitas nama kedua tokohnya, Vaginalia dan Muhammad. Di mana Vaginalia merupakan simbol dari perempuan yang merujuk pada dataran makna seputar seksualitas, tertindas, bodoh, dan sederet konotasi lainnya yang bernilai negatif dan Muhammad sebagai simbol laki-laki yang merujuk pada konotasi tinggi atau berkuasa. Hal yang menyolok dalam cerpen karya Pringadi Abdi Surya ini adalah keberpihakannya terhadap tokoh laki-laki. Sesuatu yang sebenarnya kontras dengan kebanyakan karya yang disuguhkan perempuan penulis sebab penggambaran perempuan dalam karya kontemporer justru tidak melanggengkan kekuasaan seksual laki-laki terhadap perempuan, meski memang mempermainkan psikologis tokoh perempuan. Dalam hal ini, akan sangat berbeda dengan cerpen-cerpen yang ditulis oleh Djenar.

Mengenai psikologis sebenarnya sangat erat kaitannya dengan tema dalam Vaginalia. Tema seputar persinggungan psikologis akibat tindakan seksual dan identitas jender yang terlihat dari simbolitas nama kemudian menjadi beban psikologis tokoh perempuannya dalam menanggung pemaknaan negatif yang melekat dalam diri dan identitasnya sebagai seorang perempuan. Kesemuanya sudah memperlihatkan ciri karya kontemporer. Sayangnya, penulis tidak mengolahnya lebih jauh sebab-sebab yang dialami tokoh perempuannya. Misalnya mengapa nama Vaginalia itu diberikan padanya, bagaimana ia memaknai nama tersebut, bagaimana ia memaknai hinaan dan pelecehan terhadap dirinya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa penulis kurang memperhatikan karakter atau bahkan tidak membangun karakter tokoh sentralnya untuk menunjukkan dampak psikologis tokoh tersebut. Ini membuat cerpen Vaginalia hanya menjadi sebuah deretan peristiwa yang sangat sederhana yang bermain dipermukaan dan tidak menyentuh esensi.

Menyangkut gaya kepenulisan, rasanya memang sangat wajar, sebagai penulis pemula dengan semangat pemula, Pringadi memulai pembelajarannya melalui meniru. Dalam hal ini meniru gaya atau teknik penulisan. Meniru bukanlah diartikan sebagai suatu yang sama persis atau pencurian teknik, tetapi lebih kepada proses eksperimen untuk melakukan manuver menuju suatu kebaruan atau identitas. Dalam karya fiksi, terutama cerpen, petikan-petikan repetisi atau pengulangan kata atau kalimat dirasa memiliki nilai estetika tersendiri selain memberi kesan yang menarik dan dalam bagi pembaca. Membaca Vaginalia kembali mengingatkan kita pada gaya repetisi yang sangat transparan dan lugas yang digunakan dengan tepat dalam cerpen-cerpen Djenar. Hal ini seharusnya dipehatikan lebih rinci oleh penulis sehingga penggunaan repetisi ini tidak menganggu. Sebaiknya penulis berhati-hati dalam penggunaannya sehingga cerita yang ditulis tidak berlebihan dan menjemukan. Namun kehadiran para penulis muda ini harus disambut positif sebab kiprah mereka dalam dunia sastra kelak akan membawa perkembangan sastra kita yang bukan tidak mungkin ke arah yang lebih berkualitas.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: