jump to navigation

Resensi Prosa ‘Stupidity Date’ March 16, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Winna Efendi

Stupidity Date oleh e_nal

Pertama kali membaca cerpen ini, saya tertarik pada cara penulisannya – berupa penggalan-penggalan yang dinarasikan bergantian oleh kedua karakter, satu lelaki dan satu perempuan. Gaya menulis seperti ini menarik, sekaligus rumit, karena penulis harus mampu menguasai kedua sisi dengan baik dan memberikan sifat yang distinctive untuk membedakan karakternya. Di sini, saya kira penulis cukup berhasil melakukannya.

Beberapa kekurangan cerpen yang mudah ditemukan saat saya pertama kali membacanya adalah dari segi tata bahasa dan struktur cerita. Ada beberapa peletakan titik koma yang perlu diperbaiki, misalnya dalam kalimat ini: Lalu, apa yang akan kamu lakukan? jika kamu mengetahui rahasia-rahasianya dapat ditulis demikian: Lalu apa yang akan kamu lakukan jika mengetahui rahasianya?

Dari segi plot, ada beberapa kalimat yang terkesan random dan tidak berhubungan dengan kalimat selanjutnya. Menurut saya, kesinambungan antara satu kalimat dengan yang lainnya sangat penting. Alur yang baik akan terjaga jika paragraf-paragraf yang membentuknya saling mendukung. Dalam paragraf kedua, penulis menyatakan:

Namanya Wulan. Seseorang yang sangat pendiam. Ia akan memilih mengalah jika ia didahului. Ia memiliki masalah dengan keseimbangan. Beberapa kali aku lihat dia memasuki kelas dengan terjatuh di dekat pintu. Rumahnya juga sangat jauh dan ia berjalan kaki untuk berangkat ke kelas. Semua di dirinya membuatku kagum padanya.

Masalah keseimbangan yang dimiliki Wulan tampaknya kurang berkaitan dengan lokasi rumahnya yang jauh, juga tidak cukup kuat untuk mencerminkan kekaguman Luthfi padanya. Jika penulis mengungkapkan sedikit lebih banyak fakta menarik mengenai Wulan – misalnya bagaimana ia selalu tersenyum lembut dan tidak pernah mudah terpancing emosinya, sikapnya yang kalem dan dewasa, mungkin akan membuat pembaca lebih mengerti apa yang membuat Luthfi tertarik pada gadis itu.

Penceritaan latar belakang saya rasakan banyak yang terpotong-potong, contohnya saat penulis mendeskripsikan lokasi di taman rekreasi (Ramaikah? Matahari sedang terik kah? Bagaimana rupa taman saat matahari terbenam dan langit mulai gelap ketika Wulan meratap sendirian di puncak tertinggi bianglala?). Deskripsi yang lebih detil akan membantu pembaca untuk membayangkan adegan persis seperti saat penulis melukiskannya.

Bagian akhir menyajikan klimaks yang tidak terlalu greget. Mungkin karena terkesan terburu-buru, mungkin karena eksekusinya kurang mantap. Keseluruhan cerita sebenarnya menarik, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, misalnya dari segi pendeskripsian karakter, latar, dan alur cerita yang perlu diperhatikan supaya cerita mengalir lancar tanpa kesan tersendat.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: