jump to navigation

Resensi Prosa ‘Djibril dan Aku’ March 16, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Calvin Michel Sidjaja

Djibril dan Aku oleh prince-adi

Cerpen Djibril dan Aku memiliki plot yang cukup menarik, untuk sebuah cerpen singkat. Penulis dengan efektif menyampaikan maksud ceritanya melalui pertemuan dengan Djibril, malaikat yang sering muncul sebagai pembawa pesan Tuhan kepada manusia (paralel dengan Gabriel). Karakterisasi malaikat ini menariknya, tidak digambarkan seperti malaikat penuh suci, namun melainkan malaikat yang memiliki sifat seperti manusia, bahkan mungkin memiliki sikap nakal.

Diperlihatkan bahwa malaikat tersebut memiliki nafsu duniawi, bisa merokok, memiliki nafsu untuk bercinta dengan bidadari surgawi seperti gambaran surga dalam ajaran Islam.  Ini cukup berbeda dengan gambaran surga menurut mitologi Kristen, di mana kebahagiaan didapatkan menyembah sang Tuhan tiada henti siang dan malam.

Karakter utama cerita ini, si Aku, justru tidak memiliki kepribadian yang benar-benar mencolok. Dialog antara malaikat dan tokoh si Aku lebih mirip seperti seseorang yang melakukan dialog dengan dirinya sendiri, dengan dua persona yang berbeda namun merupakan satu pribadi yang sama. Dialog berjalan dengan lancar dan dapat menyampaikan opini si penulis dengan tepat, terutama pada dialog Djibril, yang frustasi mengatakan bahwa banyak sekali orang yang berbicara mengatasnamakan namanya. Ini tentu saja terkait dengan realitas sosial di Indonesia, di mana kita melihat banyak orang-orang yang berkoar-koar membawa isu agama, ketuhanan, namun mereka bersikap tidak patut dan merasa memiliki wenenang menjadi polisi moral.

Secara keseluruhan, penulis telah berhasil membuat cerita yang mengalir dan cukup konsisten, mungkin penulis juga bisa mempertimbangkan untuk memberitahukan siapa dalah siapa dalam percakapan langsung menggunakan tanda kutip.

Plot cerita berakhir menggunakan deux ex machina, di mana karakter utama mati begitu saja sebagai penyelesaian akhir karena mungkin sudah tidak dianggap penting karena penulis sudah berhasil menyampaikan maksudnya. Penulis bahkan membongkar tembok di antara dirinya dengan pembaca dengan menjadikan karakternya berdialog pada pembaca.

Jika diteruskan lagi, cerpen ini mungkin bisa menjadi novel yang menarik. Tidak banyak penulis Indonesia yang menggunakan unsur mitologi dalam ceritanya sehingga membuat cerpen ini cukup unik dari berbagai cerpen yang sudah ada. Saya akan sangat menanti cerita berikutnya dari daya khayal sang penulis.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: