jump to navigation

Mencicipi Dunia yang Absurd March 16, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Dedy T. Riyadi

Cerita Pendek Tentang Sepasang Mata oleh dadun
Djibril dan Aku oleh prince-adi
Stupidity [Train] oleh e_nal

Semacam Komentar atas Naskah-naskah Cerita Pendek dalam Perkosakata 2009

Adalah hal yang sangat wajar bagi penulis untuk menggali fenomena-fenomena yang tidak biasa yang bisa didapatkan dari pemikirannya, pengetahuannya, kejadian yang mengingatkan pada sesuatu yang di luar kebiasaan dan lain-lain.

Dari tiga naskah cerita pendek yang saya dapatkan dari ajang Perkosakata 2009 ini, ada dua naskah yang menceritakan kehidupan si tokoh utama yang absurd. “Stupidity [Train]” misalnya, bercerita tentang seseorang yang sudah mati dan diganggu oleh suara-suara yang berasal dari ‘arwah’ penumpang kereta api yang tergelincir dan terbakar. Sedangkan “Djibril dan Aku” bercerita tentang pertemanan si tokoh utama dengan malaikat Jibril. Naskah lain yang sedikit berabsurd-absurd meskipun kejadiannya wajar – karena terjadi dalam prosesi wisuda – adalah Cerita Pendek tentang Sepasang Mata. Di dalam cerita itu hanya mata si aku yang berkelana hingga menemukan mata si dia yang mempesona.

Menulis cerita pendek memang perlu ketelitian dan kesabaran dengan ide dasar tulisan itu. Cerita yang ditulis dengan tergesa-gesa dapat dirasakan oleh para pembaca, tanpa perlu berlama-lama membaca. Kesan tergesa-gesa saya dapatkan pada naskah Stupidity [Train] karena penulis tidak berhasil menuliskan dengan baik penjelasan / deskripsi mengenai suara-suara yang didengar oleh tokoh utama (si Aku) dalam ceritanya. Hanya “Brak! Brak! Brak!” saja. Yang ditonjolkan hanyalah pemikiran-pemikiran liar tokoh utama yang mencoba mengira apa, siapa, dan bagaimana suara itu. Dan alurnya pun sangat membosankan untuk dicerna. Hingga pada akhirnya – saya kutipkan – sebagai ending, apa yang ditulis oleh penulis betul-betul sesuatu yang tidak merupakan akumulasi ketegangan dari awal cerita;

Suara itu lagi!! Aku benar-benar muak. Harusnya aku tahu. Itu suara kayu nisanku. Mereka menginjak dan membantingnya ke tanah. Mereka, para penumpang kereta yang tergelincir itu. Mereka yang tidak dikenali karena gerbongnya terbakar saat kecelakaan. Mereka, menjadi tetanggaku di sini. Mereka masih membanting dan menginjaknya. Harusnya aku tahu, itu tidak akan menghilangkan dendam mereka. Sial, aku benci kereta dan penumpangnya.

Ada hubungan antara aku dan mereka dalam cerita itu pada kalimat berikut di alenia ke tiga;

Kemarin aku untung besar setelah mencuri besi rel kereta dan menjualnya di pasar kampung sebelah.

Akan tetapi, pengambilan sudut pandang dalam cerita ini yaitu suara-suara yang mengganggu kubur si aku terasa begitu mengambang. Tidak menyentuh akar permasalahan ini. Bahkan bisa dikatakan tidak bersinggungan sama sekali.

Sebenarnya akan indah lagi jika urutan atau kronologis dari peristiwa-peristiwa yang kemudian menyebabkan kemarahan arwah-arwah korban kereta api terhadap arwah pelaku pencurian rel kereta ini dibuat oleh penulis dengan kilas balik, atau alur maju seperti yang sudah ditulis hanya dengan lebih terperinci.

Di dalam cerita pendek “Djibril dan Aku” masih terlihat kelemahan yang sama. Menceritakan arwah yang bercerita kepada pembaca tentang pengalaman hidupnya. Hal itu nampak jelas sekali dari kalimat terakhir dalam cerita pendek itu;

Kaudengar ceritaku kan? Hei kau, tatap aku! Ternyata percuma mengajakmu bicara. Sekali pun kau tak bisa mendengarku.

Dengan kalimat seperti itu, malah ada semacam pemaksaan yang muncul dari penulis terhadap pembaca. Dan dengan kalimat semacam ini, misteri yang hendak didapat dari cerita itu justru kabur. Tak berbekas. Tak cuma itu, pemaksaan dari penulis sudah saya dapatkan dari awal cerita.

Kau tak percaya padaku?

Untuk apa dituliskan hal semacam ini? Tak ada guna. Estimasi yang dibuat penulis untuk pembaca cerpennya malah bisa dikatakan tidak mencerdaskan pembacanya! Biarkan saja pembaca mengolah sendiri apa yang mereka yakini dari cerita yang ditulis. Percayalah bahwa pembaca itu pintar!

Ide tulisan ini sebenarnya bagus. Bahkan sangat bagus. Memainkan kepercayaan seseorang. Iman kepada para Malaikat merupakan salah satu rukun Iman dalam Islam. Dan dari sana, ada disebut beberapa nama Malaikat dengan tugas-tugasnya. Jibril adalah pengantar wahyu, dan Izrail adalah pencabut nyawa. Dalam cerpen ini, Jibril bertingkahlaku seperti seseorang manusia yang doyan merokok, minum minuman beralkohol, bahkan ajojing dengan perempuan di sebuah diskotik.

Ada dua alur yang berjalan bersama dalam cerpen ini, alur pertemuan-pertemuan tokoh utama dengan Jibril, dan alur “pekerjaan” tokoh utama hingga membuatnya masuk penjara dan bertemu dengan Jibril dan Izrail! Ini juga sesuatu yang menarik. Hanya saja, alur dan makna pertemuan si aku dengan Jibril itu justru tidak mempengaruhi alur satunya, hanya terbatas pada keyakinan tokoh utama yang mempertanyakan ke-asli-an Jibril yang dia jumpai.

Sayang sekali memang, permainan cantik yang sudah ditonjolkan dari awal yaitu mempertanyakan kepercayaan terhadap malaikat harus runtuh pada kepercayaan yang sudah berlaku umum; bahwa malaikat punya tugas sendiri-sendiri, termasuk Izrail yang lantas diperintah (?) oleh Jibril untuk mencabut nyawa tokoh utama cerita ini.

Naskah terakhir yaitu Cerita Pendek tentang Sepasang Mata, hampir saja mengingatkan saya pada film The Eye! Namun ternyata tidak segila itu idenya. Idenya masih sangat biasa, untuk tidak dibilang mentah. Saya menduga ending cerita itu berakhir pada sepasang tangan yang berusaha keras mencopot kedua bola mata yang sangat sedih melihat si dia yang ternyata tengah berasyikmasyuk pada pandangan seseorang yang lain! Tapi untunglah tidak (atau saya mesti bilang sayangnya tidak?) karena sepasang mata dalam cerita ini berakhir dengan sangat datar.

Lantas, saya akan berpura-pura menutup mata dari kenyataan bahwa hanya dalam beberapa menit saja, saya telah patah hati.

Sama seperti saya yang berpura-pura menutup mata pernah menonton film The Eye, atau pernah membaca sebuah cerita tentang seorang gadis yang terpaksa mencungkil ke dua bola matanya karena telah mengganggu keimanan seorang pemuda!

Jakarta, 10 Maret 2009

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: