jump to navigation

Darah Trah Dewata Dan Perlawanan Cinta Perempuan Bali March 16, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Dino Umahuk

Darah Trah Dewata oleh Chaa

Bukan maksud menyandingkan Novel “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini  dengan Puisi “Darah Trah Dewata” karya R. Mega Ayu Krisandi Dewi  (Chaa) karena pada dasarnya keduanya berbeda. Yang satu  novel yang satunya teks puisi. Yang satunya ditulis oleh sastrawan terkenal Oka Rusmini yang satu lagi ditulis oleh penyair pemula Chaa. Yang satu sudah sangat terkenal di ranah sastra yang satu sedang belajar menggeliat.

Lalu kenapa aku memaksakan diri untuk menautkan dua karya ini ke dalam tulisan yang kacau balau ini? Aku tentu punya alasan yan mungkin subyektif. Seperti kasta, dua karya ini ditulis oleh penulis dengan kelas yang berbeda. Namun menarik bagi aku karena kedua karya ini sama-sama ditulis oleh  dua perempuan Bali. Nafas kedua karya ini pun sama yakni pemberontakan.


**

Novel Tarian Bumi bercerita tentang Luh Sekar dan Telaga. Dua tokoh, ibu dan anak yang berbeda pandangan tentang arti sebuah kebahagiaan. Luh Sekar adalah seorang perempuan dari kasta sudra yang sangat berkeinginan untuk menikah dengan lelaki dari kasta Brahmana. Cita-cita Luh Sekar pun menjadi kenyataan ketika menikah dengan Ida Bagus Ngurah Pidada, seorang lelaki brahmana, yang tidak bisa apa-apa, kecuali mabuk-mabukan dan juga bercinta sembarangan dengan berbagai macam perempuan termasuk dengan Kerta dan Kerti, dua adik perempuan Luh Sekar. Setelah menikah dengan lelaki kasta Brahmana, nama Luh Sekar pun berubah menjadi Jero Kenanga. Jero merupakan gelar yang diberikan kepada perempuan kasta rendah yang menikah dengan lelaki dengan kasta Brahmana.

Dari pernikahannya ini, lahirlah Ida Ayu Telaga Pidada. Berbeda dengan ibunya yang begitu mengagungkan nilai derajat kebangsawanan, maka Telaga Pidada justru memandang bahwa kasta Brahmana penuh dengan kemunafikan. Telaga Pidada pun lebih tertarik dengan Wayan Sasmitha, seorang lelaki dari kasta rendah. Segala kemewahan, kemudahan yang didapat selama tinggal di griya dan juga gelar kebangsawanan ditanggalkan oleh Telaga Pidada demi Wayan Sasmitha. Telaga Pidada tinggal bersama Wayan, Luh Gumbreg dan Luh Sadri, adik dari Wayan dengan kehidupan khas keluarga sudra yang serba kesusahan, tetapi Telaga Pidada bahagia dengan pilihannya tersebut.

Masyarakat Bali, yang mayoritas menganut agama Hindu, mengenal dan menggunakan sistem kasta dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Kasta yang paling tinggi dan mendapat perlakuan yang istimewa adalah kaum brahmana atau bangsawan, sedangkan kasta yang terendah, atau masyarakat paling bawah adalah kaum sudra.

Dalam Tarian Bumi, Oka Rusmini menawarkan sebuah pemberontakan atas nilai-nilai melalui sosok Telaga. Digambarkan, sejak muda, Telaga sebenarnya benci terlahir sebagai seorang putri bangsawan. Terlalu banyak aturan adat yang harus dijalaninya. Lebih-lebih karena ibunya sendiri seorang sudra, yang disunting oleh lelaki brahmana.

Puncak Decomposing yang dilakukan oleh Telaga, yaitu ia berani menabrak nilai sakral adat karena bersedia dikawini oleh laki-laki sudra, kasta terendah. Perkawinan itu tentu saja tidak direstui ibunya, Luh Sekar, yang sejak awal mengharapkan anaknya disunting lelaki bangsawan. Sementara, oleh ibu mertuanya, Telaga juga tidak sepenuhnya diterima karena kehadiran perempuan brahmana dalam keluarga sudra diyakini hanya akan membawa sial.

Namun, Telaga tetap pada pendiriannya, dengan menikahi Wayan, Telaga membuktikan bahwa ia-lah yang memilih siapa yang akan menjadi suaminya, bukan sistem atau adat. Meskipun untuk itu ia harus melepas semua gelar kebangsawananya.

” Hari ini juga tiang akan meninggalkan nama Ida Ayu. Tiang akan jadi perempuan Sudra yang utuh…” (Rusmini, 2004: 220)

”Aku tidak pernah meminta peran sebagai Ida Ayu Pidada. Kalaupun hidup terus memaksaku memainkan peran itu, aku harus menjadi aktor yang baik. Dan, hidup harus bertanggung jawab atas permainan gemilangku sebagai Telaga.” (Rusmini, 2004: 222)

Novel Tarian Bumi, dengan mengambil budaya Bali sebagai latar, merupakan gugatan yang sangat keras terhadap kemapanan nilai-nilai lama yang tertutup dan angkuh. Perempuan-perempuan yang digambarkan oleh Oka Rusmini tidak hanya menjadi sebuah kritikan yang keras terhadap sistem patriarki, sistem yang selama ini merugikan kaum tersebut. Oka Rusmini bahkan menawarkan sebuah pemberontakan dengan sebuah pemikiran, bahwa perempuan tidaklah hanya untuk dipilih, tapi juga berhak untuk memilih.

***

Kasta adalah sebuah kata yang sakti dan mampu membuat perselisihan di antara kerabat. Perjalanannya hingga sekarang di Bali masih dirasakan ada, karena ada golongan-golongan tertentu yang tetap mempertahankan feodalisme kaum-kaum ningrat yang dikatagorikan darah biru. Prof. I Gusti Ngurah Bagus pada tahun 1969 menghadirkan tulisan yang benar-benar sangat menggugah wawasan tentang keberadaan kasta di Bali pada masa-masa pergerakan nasional, yang menjamur ketika semua mempunyai prinsip dan bersikukuh terhadap idealisme kasta yang dimiliki, sikap fanatisme antar golongan, serta manajemen konflik yang kurang dimengerti dan dilaksanakan dengan baik. Tulisan itu bisa menjadi bukti kalau pergolakan akan kasta memang dari dulu tidak ada titik temu.

Kasta oleh Prof. I Gusti Ngurah Bagus dibagi menjadi empat yang lebih dikenal dengan Catur Wangsa yaitu Brahmana (golongan bramana), Ksatria (golongan ksatria), Wesia (golongan pedagang), dan Sudra (golongan budak atau buruh rendahan). Mereka yang berada pada strata yang lebih endah selalu dipinggirkan dalam berbagai macam urusan karena dianggap orang yang tidak penting. Namun tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan sosial kalau pada nantinya semua berbaur menjadi satu jika dalam bermasyarakat. Cinta bisa tumbuh di mana saja oleh siapa saja tidak memandang kedudukan dan fungsi masing-masing orang.

Pada jaman sebelum menginjak sekarang perkawinan antara kasta itu dipandang sesuatu yang tabu alih-alih dipandang sebagai hal yang aib juga sebab melakukan perkawinan seperti ini dinilai anomali oleh para tetua yang pada saat itu masih mempertahankan adat budaya masing-masing. Masih menganggap adanya golongan tinggi dan golongan rendah, sehingga tak pelak perpecahanpun terjadi walaupun itu masalahnya kecil yaitu cinta yang mempertaruhkan kasta.

****

Lalu di mana posisi sajak Darah Trah Dewata karya R. Mega Ayu Krisandi Dewi  (Chaa) berikut ini dalam menyuarakan perlawanan atas tembok-tembok adat yang menghalang? Mari kita lihat bersama:

Sesemat kata muncrat di angkasa

Termaktub kesumat lupa tak tersebut

Ksatriaku, (yang hidup terlingkup megah nirwana)

Disinilah aku,(yang menelungkup dalam griya rumbia)

Mari cinta…,kita tertawa

Menabuh genta tak bernyawa

Ini cemeti,

Yang ini belati..

Dengan mana kita pilih mati??

Tak perlu cawan menadah darahmu

Tuang saja ke mulutku,biar kucium anyir itu

samakah dengan amis punyaku.

Jubah tak senama,(yang kaummu sebut sahaya–sudra)

Telah ku koyak di pinggiran jalan

Sekarang,

aku telanjang!

Tak berkasta

Kemari cinta…

Ini prasasti, sudah kuukir tadi sembari menggurat nadi

Dan ini peti mati..

Tempat kita bergelinjang malam pertama nanti

Mari cinta,Kemarilah sang ksatria..

Bahanakan kesumat kita!

Kesumat cinta berkalang kasta

Lalu pada prasasti akan termaktub kata sejarah

‘Darah trah dewata tumpah di tanah sudra’

Boleh jadi puisi ini hanya ungkapan perasaan penulis yang  gundah yang resah dengan nasib percintaannya atau nasib pasangan-pasangan muda lain di Bali yang tengah dimabuk asmara dan mereka harus berhadapat dengan tembok adat. Tetapi coba kita lihat aroma pemberontakan yang  juga menguap dengan aroma yang hampir sama dengan  apa yang ditulis oleh Oka Rusmini.

Chaa yang yang menelungkup dalam griya rumbia sebagai takdirnya berkasta sudra, menantang sang krastianya yang  hidup terlingkup megah nirwana untuk datang merebut cinta untuk memilih mati  entah dengan cemeti entah dengan belati.  Chaa dengan berani menantang tembok kasta dengan berkata:

Jubah tak senama,(yang kaummu sebut sahaya–sudra)

Telah ku koyak di pinggiran jalan

Sekarang,

aku telanjang!

Tak berkasta

Perkawinan adat di Bali bersifat endogami klen. Menurut adat lama yang dipengaruhi oleh sistim klen dan kasta, orang – orang seklen (tunggal kawitan, tunggal dadia, tunggal sanggah) setingkat kedudukannya dalam adat, agama, dan kasta. Dahulu, jika terjadi perkawinan campuran, wanita akan dinyatakan keluar dari dadia. Secara fisik, suami istri akan dihukum buang (Maselong) untuk beberapa lama ketempat yang jauh dari tempat asalnya.

Lalu lihat juga penggalan  terakhir dari sajak yang memberontak ini:

Mari cinta ,Kemarilah sang ksatria..

Bahanakan kesumat kita!

Kesumat cinta berkalang kasta

Lalu pada prasasti akan termaktub kata sejarah

‘Darah trah dewata tumpah di tanah sudra’

Begitulah aku melihat aroma pemberontakan menguap dari sajak Darah Trah Dewata karya R. Mega Ayu Krisandi Dewi. Pemberontakan terhadap budaya dan adat yang merugikannya yang membnuh cintanya.

Mengaitkan kedua karya ini dengan budaya di dalam adat Bali adalah hal yang tidak mungkin aku abaikan meskipun kedua karya ini terus terang berbada kelas dan kasta. Namun demikian Tarian Bumi dan Darah Trah Dewata sama-sama ditulis oleh dua perempuan Bali yang gelisah, mandiri, radikal dan memberontak.

o Penulis adalah Sastrawan dan Jurnalis

Sumber Naskah:
-http://secangkircokelat.blogspot.com/2006/10/tarian-bumi-perempuan-kasta-dan.html
-http://entertainmen.suaramerdeka.com/index.php?id=319
-http://www.sriti.com/storyview.php?key=1085
-www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2004/2/29/g1.html
-akademikaunud.wordpress.com/2008/08/13/menelisik-perkawinan-antara-cinta-dan-kasta/
-suluhbali.multiply.com/journal
-www.indo.net.id/mbs/mayapada_indah_wayang_golek.htm

Comments»

1. Dewa Putra Adnyana - February 22, 2010

Kalo manusia dilahirkan sama, maka hanyalah tata titi basa yang membedakan bahwa manusia itu mampu sebagai ma-nu-sa….yitu manut sesana sebagai mahluk ciptaan Tuhan, yang memunyai tri premana, akhirnya mampu bersosialisasi dimasyarakat baik khusus maupun secara global.

Tetapi mari itu kita pakai pedoman untuk kedepannya, bahwa manusia punya nama, negara punya sejarah, serta budaya bali is bali.

akhirnya, klungkung smarapura,….kirang langkung ampura..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: