jump to navigation

SEKELUMIT PERSOALAN MENULIS March 6, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Moh Fahmi Amrulloh

Obsesi Punggung oleh miracle_hope
Stupidity Love oleh e_nal
Kepak Sayap Hitam oleh SnowDrop

Tahun ini saya ditawari untuk ikut meramaikan acara Perkosakata pada sesi resensi karya. Saya menyanggupi. Beberapa minggu kemudian panitia mengirimkan tiga naskah cerita ke e-mail saya. Saya baca karya-karya itu satu per satu ketika ada waktu senggang.

Tiga naskah cerita yang dijatahkan kepada saya, terlepas dari bagaimana karya tersebut ditulis, adalah karya yang tidak lahir seperti kelinci yang keluar dari sebuah boks dalam pertunjukan sulap. Menulis adalah persoalan mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui teks.

Lantas bagaimana teks tersebut dapat diterima dan memberi manfaat kepada pembaca? Hal itu dapat dikembalikan pada kualitas karya dan kreatifitas seorang penulis memikat emosi para pembacanya. Saya tidak yakin seseorang menulis kemudian berharap tulisannya tidak akan dibaca. Akan tetapi terlalu memaksakan orang lain untuk bersepakat dengan suatu gagasan sudah pasti akan mencuatkan sikap arogan, setidaknya menurut saya.

Terhadap tiga cerita yang dikirimkan panitia kepada saya, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengurai masing-masing karya tersebut secara detil, melainkan sekadarnya saja.

Pertama, cerita yang berjudul Obsesi Punggung. Saya sempat berkali-kali ‘masygul’ membaca cerita tersebut. Menurut hemat saya, gagasan yang ingin disampaikan oleh penulisnya kepada pembaca masih terlalu mentah. Saya tidak bermaksud memandangnya sebelah mata, tapi percayalah, saya memang benar-benar tidak mampu menjangkau cerita ini. Ada banyak bagian yang cukup membingungkan. Pembaca hanya digiring untuk mengikuti cerita sang penulis yang terobsesi dengan punggung, tetapi tidak ada hal spesifik yang ingin disampaikan. Hal lain yang juga cukup mengganggu adalah uraian penulis tentang teori anjing Pavlov yang terlalu sistematis, yang bahkan lebih mengarah pada tulisan ilmiah.

Saya kira, jika cerita tersebut hendak dimaksudkan sebagai cerita pendek yang notabene menjadi sub dalam karya sastra, tentunya si penulis masih bisa meraciknya lebih spesifik lagi, kecuali memang diniatkan sebagai sebuah catatan harian penulisnya yang akhirnya hanya akan disimpan sebagai kenang-kenangan.

Kedua, cerita Stupidity Love. Menurut saya, gagasan yang disampaikan dalam cerita ini masih bisa dipahami. Dialog sebagai salah satu unsur cerita terasa mengalir dan mampu menggelitik imajinasi saya. Namun, ada hal yang kiranya kerap luput dari pengamatan pengarang, yakni pada judul.

Dalam sebuah tulisan, entah fiksi maupun non-fiksi, judul seharusnya mutlak diperhatikan betul-betul. Pemilihan judul yang unik memang dapat menggelitik rasa penasaran pembacanya. Sebaliknya, judul yang terlalu lama memaksa pikiran pembaca untuk mengutak-atiknya lebih jauh akan terasa sangat membosankan.

Saya ibaratkan seorang penulis tak jauh beda dengan seorang sales yang menawarkan barang kepada calon pembeli. Sebelum ia menawarkan barang dagangannya, tentunya harus diperhatikan situasi yang terjadi serta bagaimana cara membuka perbincangan agar sasarannya merasa tertarik. Kaitannya dengan cerita ini, saya usulkan cobalah menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana, tapi menyisakan kesan di benak pembaca. Penggunaan istilah asing yang tidak tepat sasaran bukannya ‘mempercantik’ cerita, melainkan bisa jadi malah mengganggu atau mengaburkan keutuhan sebuah cerita.

Ketiga, cerita Kepak Sayap Hitam. Bagi saya, cerita ini cukup matang dibanding dua cerita sebelumnya. Bangunan cerita yang ada di dalamnya terlihat kokoh, walaupun ada beberapa bagian yang terasa kaku, seperti suatu teks yang diterjemahkan dari bahasa asing secara letterlijk. Saya sempat mengira-ngira penulis cerita ini sudah cukup banyak menyerap teknik-teknik menulis cerita pendek pada umumnya. Dari proses pembacaan saya terhadap cerita ini, saya melihat imajinasi penulisnya terhadap kematian memang liar, khususnya dalam mempersonifikasi malaikat.

Terlepas dari teknik maupun gagasan yang disampaikan ketiga penulis cerita di atas, satu hal yang membuat saya salut adalah soal kerja keras mereka mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman dalam teks. Sementara di belahan lain kerap kita dengar satu pertanyaan klise dan sering diulang oleh para penulis, baik pemula maupun yang sudah mahir, yaitu: “saya memiliki ide, tapi bagaimana saya menuangkannya menjadi tulisan?”

Comments»

1. KD - March 6, 2009

kurang memuaskan

2. peziarah - March 18, 2009

kalo kurang puas nanya ke siapa ya? bisa langsung ke resensornya nggak? ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: