jump to navigation

Resensi Prosa “Jejak Air” March 2, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Andya Primanda

Jejak Air oleh fortherose

Pertama, untuk teknik penulisan, penulis saya nilai bagus. 7/10—andai saja dia perhatikan ada “jam tiga” dan “pukul setengah empat” berdekatan dan lakukan sesuatu, nilainya bakal naik jadi 8/10.

“Jejak Air” mau bercerita tentang seorang dokter forensik yang bingung, apakah dia bermimpi melakukan sesuatu atau benar-benar melakukan sesuatu. Apakah jejak air di rumahnya buatan si Benji, atau perempuan yang kemarin malam. Cerpen berjalan membawa pembaca bersama si dokter menelusuri kejadian kemarin malam, dengan alur acak. Ada orang-orang yang berteriak. Ada tiga orang yang dia temui. Atau dua? Yang jelas malam sebelumnya si dokter mementung kepala seorang laki-laki dengan sekop. Laki-laki itu saksi yang melihat si dokter menguburkan seorang perempuan. Perempuan itu tidur dengan si dokter malam sebelumnya, dan terbunuh karena melihat “ruangan kenangan” yang tak seharusnya dia lihat. Nah, itu sudah dua orang. Yang satu lagi? Perempuan yang mengajak bicara si dokter yang pusing memikirkan dua mayat, satu di bawah pohon, satu di danau. Pada pembacaan pertama saya keliru mengira perempuan yang ini sama dengan yang satu lagi, yang mati. Gara-gara kalimat “Suara perempuan itu muncul lagi.” Beberapa kalimat sebelumnya “perempuan itu” berkicau di hadapan si dokter. Ah, tidak jelas.

Si dokter sepertinya tokoh dengan segi kejiwaan menarik—pengoleksi tusuk gigi bekas pakai, menyimpan gaun bernoda merah dan sepatu yang cuma sebelah, dan sepertinya mudah membunuh orang. Kaitkan itu dengan profesinya sebagai dokter forensik—pemeriksa mayat orang yang mati tak wajar—dan khayalan saya memancing pengembangan tokoh ini lebih lanjut, dokter forensik yang belajar dengan praktik langsung, membunuh orang dengan berbagai cara lalu mempelajari apa saja akibat tiap cara pada mayat manusia. (Dan saya teringat seorang kenalan, peneliti entomologi forensik, dan penelitian uniknya menyimpan mayat, eh, bangkai babi dalam berbagai kondisi yang dia cek secara berkala untuk mengetahui apakah belatung yang makan bangkai berumur sehari sama dengan yang ada di bangkai berumur seminggu. Begitulah asyiknya penelitian forensik!) Sayang, dalam “Jejak Air” kita baru dapat sedikit sekali aksi si dokter forensik pembunuh. Kalau penulis mau, tentunya dengan didukung riset, bisa saja si dokter dijadikan tokoh utama novel thriller.

Atau yang seperti itu sudah pernah ada? Penulis tahu HBO, berarti kenal TV kabel, dan mungkin nonton serial Monk, Dexter, dan/atau CSI. Detektif nyentrik dengan kejiwaan aneh, pembunuh berantai yang mempesona, dan tim forensik kepolisian. Hmmm.

Kesimpulannya, saya lumayan suka dengan cerpen ini. Menarik, dengan tokoh yang berpotensi, dan ceritanya pun tidak “bolong” (dalam arti tidak satupun bagiannya yang lupa dituntaskan). Alurnya memang tidak bisa dipahami dengan sekali baca, tapi pembacaan kedua dan ketiga membuat saya makin respek terhadap kerapian jalinan plotnya. 8/10 untuk plot.

Dengan sedikit sentuhan penyunting, “Jejak Air” bisa lebih bagus. Bahkan saya pikir layak menjadi bab pembuka satu novel, novel tentang dokter forensik merangkap pembunuh.

Comments»

1. Winna - March 2, 2009

saya jadi ingat cerpen Ayu yang ini🙂
nice review!

2. KD - March 6, 2009

gila nih si andya, teliti banget, matematis… gak bisa basah-basih ya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: