jump to navigation

Perumpamaan tentang hujan March 2, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Winna Efendi

Aku Bersedia Mencintai Hujan oleh me_everywhere

Sebuah tema yang tidak pernah usang walau sangat sering digunakan, dalam lirik lagu, adegan film (masih ingat bauran air mata bercampur dengan air hujan dan soundtrack mellow yang mengantar sang kekasih pergi?), climaxing scene buku, judul.. Bahkan saat menulis ini, saya (kebetulan) sedang mendengarkan seuntai lagu bertema hujan.

Hujan.

Klise, memang, tapi tidak kehilangan kekuatannya jika digunakan dengan tepat. Cerpen ini adalah salah satu yang berhasil melakukannya. Hujan, yang dikaitkan dengan sifat dan emosi karakternya, sukses meningkatkan atmosfir kesenduan dan romantisme cerita.

Cerita dimulai dengan perumpamaan-perumpamaan yang menunjukkan cinta sang narator yang bertepuk sebelah tangan. Begitu juga ketika scene pertama disorot, menunjukkan sepasang muda-mudi yang sedang duduk membisu. Lalu fakta demi fakta mulai dipersembahkan lewat dialog dan monolog – cara yang cerdas untuk mengungkapkan inti cerita tanpa perlu repot-repot menjelaskannya melalui narasi panjang.

Dialog berperan penting dalam mendukung jalan cerita, dan dialog yang dimainkan oleh penulis sudah cukup baik. Dialog sang karakter wanita jelas menunjukkan ketidaktahuannya akan perasaan sahabatnya. Sedangkan, kosakata sang karakter pria lebih banyak didominasi oleh monolog pahit.

Lalu perihal bahasa Perancis. Saya termasuk orang yang enggan menggunakan bahasa asing jika karakter maupun latar cerita saya tidak ada hubungannya dengan asal bahasa tersebut. Bagi saya, terlalu banyak menggunakan bahasa asing (apalagi dalam satu paragraf) mengganggu kenikmatan pembaca dalam menyerap cerita. Entahlah, saya kurang menangkap mengapa penulis menggunakan begitu banyak bahasa Perancis dalam cerpen ini, khususnya untuk karakter pria. Sang pria tampaknya fasih berbahasa Perancis, sedangkan tidak diceritakan apakah dia peranakan Perancis, lama tinggal di sana, atau apa. Karena tidak ada supporting facts yang menjelaskannya, saya kurang memahami mengapa sang karakter pria membisikkan mon cheri berulang-ulang dalam hati. Efek romantisme yang ingin diciptakan melalui prosa indah tersebut kurang efektif karenanya.

Oh ya, scene saat Adi membacakan penggalan puisi yang indah itu sedikit mengingatkan saya pada adegan dalam film Eiffel I’m in Love, saat Adit berbicara dalam bahasa Perancis kepada Tita yang bengong karena tidak mengerti.

Adegan-adegan yang bittersweet disajikan dengan baik, walau beberapa tampak familiar. Bagian favorit saya adalah saat sang gadis masuk ke dalam mobil, dan Adi tidak mempedulikan tetesan air yang membasahi jok (kesayangannya, mungkin). Juga ending yang menurut saya sempurna untuk menutup cerpen ini – aku bersedia mencintai hujan.

Sedikit tambahan detil untuk setting, misalnya temaramnya kafe, warna langit yang mendung, mungkin bisa menambahkan sentuhan yang berarti pada cerpen ini. Tapi secara keseluruhan, cerpen ini adalah karya yang manis. Sederhana, tidak neko-neko, dengan alur yang pas (tidak terlalu lambat, juga tidak terlalu cepat). Saat membacanya, saya merasa seakan sedang duduk di seberang kafe tempat mereka bertemu, melihat mereka bercengkerama lewat jendela yang berembun.

Saya bukan penggemar hujan. Tapi dalam cerpen ini, rasanya.. saya juga bersedia mencintai hujan.

Comments»

1. signallokal - March 2, 2010

saya lihat dulu cerpen yang diresensi supaya lebih bagus

menuju TKP


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: