jump to navigation

Membaca Suka, Demi Angin March 2, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh TS Pinang

Ada empat judul sajak yang ditawarkan kepada saya, dan saya langsung memilih dua sajak ini dengan alasan yang pasti subjektif, sajak Fortherose “Suka” saya pilih karena pendeknya, sedangkan “Demi Angin” karya Syahreza Gustian saya pilih karena ingin saya lawankan dengan Suka. Keduanya menyarankan suasana emosi yang khusus, hanya Fortherose memilih untuk memampatkannya dalam satu baris berisi dua potong kalimat pendek sementara Syahreza memilih untuk menjabarkannya dalam larik-larik yang panjang.

Suka oleh fortherose

kata tersangkut. aku tercekik

Seseorang yang tercekik tentu kesulitan berkata-kata. Ada kata yang tersangkut pula. Bila dua potong berita itu diasosiasikan, maka dalam benak saya tergambar aku-lirik tercekik oleh kata. Terbayang suasana aku-lirik tercekat oleh sesuatu yang tak diharapkan, entah sesuatu yang baik atau buruk, yang mengejutkan datangnya dan membuat aku-lirik kehilangan kendali atas dirinya. Di situ lalu judul berperan. Suka, lalu menjadi pengikat peristiwa yang diungkapkan dalam satu baris itu. Maka sajak ini bisa buru-buru disimpulkan sebagai suasana suka (pada seseorang?) yang entah bagaimana membuat aku-lirik menjadi tak mampu berkata-kata. “Entah bagaimana” ini membuka banyak sekali kemungkinan yang membuat sajak yang tampil minim ini menjadi kompleks. Mengapa “suka” bisa membuat “aku” tercekik? Mengapa kata tersangkut, tak mau keluar? Nah, saya rasa pembaca dapat mereka-reka adegan sendiri dalam suasana semacam itu. Mungkin aku-lirik merasa jengah dengan perasaannya sendiri, mungkin ia menjadi cemas akan kemungkinan-ketidakmungkinan yang membayangi ke-suka-an itu, mungkin ke-suka-an itu sepihak, mungkin karena terlalu tak terduga datangnya (sehingga mengejutkan, menakutkan?), dan daftar kemungkinan ini bisa bertambah panjang.

Bisa juga, karena begitu riuhnya kata-kata hendak berhamburan keluar karena luapan emosi “suka” itu sehingga justru hanya sebaris itu saja yang mampu dihadirkannya. Yang sebaris itu mewakili keriuhan dalam diri aku-lirik, sebaris yang mewakili kompleksitas kemungkinan.

Demi Angin oleh 51-374

demi angin yang menebar rasa hampa, katakan padaku sepi telah menjadi sia-sia. lalu serangkum mimpi menepaki sepenggal kerinduan pada sungai dan muara yang tak bertemu. begitu jingga kabut nya, berbaur alunan nestapa menghanyutkan diri.

demi angin ajari aku, menjahit sobekan hati di ujung lepih saat luka menggapai tirainya. mengalir secerca darah bercampur air mata. kental bergumpal di rajutnya duka bersulam cinta.

demi angin sampaikan salam gerimisku, merinai di celah hati. ada nasib lenyap di muara tak bertemu . ada pula cobaan sirna di bukit janji dan ada pula bala sobek, tergantung di lengkung selajur pelangi.

demi angin mengajakku, bercerita tentang kesunyian. perih menikam jantung sanubari menguntai kata dalam pelarian, memeluk

bayangmu.

Syahreza juga menggambarkan suasana emosi tertentu dalam sajaknya. Berlawanan dengan Suka yang memampatkan keriuhan interior aku-lirik dalam kesedikitan kata, Demi Angin justru menghambur-hamburkan kata yang kontras dengan suasana kehampaan, kesepian, kesia-siaan, kesunyian yang mendominasi sajak tersebut. Angin yang diasosiasikan dengan rasa hampa, sepi, kesunyian—juga sifatnya yang menebar, menjelajah sehingga aku-lirik menitipkan salamnya kepada entah, mengisi ruang-ruang yang ‘kosong’—menjadi alat yang ampuh bagi penyair untuk mengurai suasana kehilangan, ketakbertemuan, kesirnaan, kesunyian. Aku-lirik banyak bicara justru karena kehampaan interiornya. Sebab sifatnya yang mengurai itulah, sajak Demi Angin ini menjadi terkesan cair dan ringan, apalagi karena ia mengendarai ‘angin’ untuk menghanyutkan dirinya.

Sajak Suka menyiratkan “pertemuan”, sedangkan Demi Angin menyiratkan “perpisahan”, dua kelopak emosi dari kuntum bunga yang sama. Bahwa “sungai dan muara yang tak bertemu” , hati yang sobek, atau “nasib yang lenyap” menghasilkan nestapa adalah sudah sewajarnya. Sebenarnya dalam membaca sajak-sajak demikian saya berharap ada semacam kejutan, yang membelokkan logika saya dari alur ‘kewajaran’ itu, suatu temuan (hikmah) baru dari peristiwa yang biasa alih-alih sekedar melankolia. Apa yang ditemui setelah menghanyutkan diri dalam kenestapaan? Apa yang disimpulkan setelah berbincang dengan angin tentang kesunyian?

Kelemahan sajak yang relatif panjang adalah ia menjadi terlalu cair dan terang sehingga pembaca jadi kehabisan ruang untuk sekedar ikut bermain dalam suasana yang dibangun oleh sajak tersebut, sedangkan sajak yang relatif pendek membawa resiko terlalu personal sehingga terlalu gelap. Bermain di ruangan gelap juga kurang menarik. Tantangan menulis sajak panjang adalah bagaimana menjaga agar tetap ada ruang bagi pembaca untuk menempatkan dirinya sebagai aku-lirik dan ikut berperan di sana, bukan sekedar jadi tempat ‘curhat’ si penyair. Demikian juga dalam menulis sajak pendek, tantangannya adalah bagaimana agar pembaca tidak diasingkan karena minimnya ‘tanda’, agar pembaca tidak sekedar menjadi penonton pasif sebuah kisah absurd. Sejauh ini saya masih meyakini puisi yang kuat adalah yang mampu memicu keterlibatan subjektif pembaca. Dengan kata lain, puisi yang mampu mengundang pembaca untuk berkontemplasi, bercermin memandang dirinya sendiri melalui puisi tersebut.

Comments»

1. KD - March 6, 2009

nah ini nih baru keren, ts pinang membuat resensi seperti prosa liris. keren… keren… keren… plok plok plok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: