jump to navigation

Dan di Kemudian Puisi Melangkah Mundur March 2, 2009

Posted by ayuprameswary in Resensi Karya.
trackback

Oleh Dino Umahuk

Puisi merupakan pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandung pikiran-pikiran dan tanggapan-tanggapan begitu pendapat Paus Sastra Indonesia H. B. Jassin. Sementara itu, Sutardji Calsoum Bahri berpendapat Puisi tidak teraih hanya dengan sekadar menghiraukan pesan, isi, dan atau tema. Puisi terutama memberikan perhatian maksimal terhadap cara pengungkapan bahasanya, bila tidak, maka yang dihasilkan adalah puisi yang tidak menghiraukan puisi.

Lalu apa hubungan pendapat dua punggawa sastra indonesia itu dengan gerundelanku yang tak karuan ini. Mungkin pembaca menganggap saya sok tahu atau memang saya meracau tatepi baiklah saya jelaskan mengapa kedua pendapat tersebut penting saya angkat.

Begini ceritanya. Hari ini Kamis 19 Februari 2009, saya baru tiba di kantor pukul 10.30 wib dengan sedikit ganguan pencernaan karena sehari sebelumnya terserang disentri. Begitu laptop butut kunyalakan dan menghidupkan yahoo messenger, seorang panitia perkosakata 2009 langsung menyerangku dengan pesan “ om aku baru kirim naskah resensi”.

Segera kubuka email dan memang benar ada kiriman naskah empat puisi yang dikirimkan kepada saya, masing-masing: Mendayu Senja Pada Lipatan Usia Kekal, Tanyakan Pada Gerimis, Gojeger dan Sepenggal Kisah. Tentu saya tidak harus menulskan keempat nama penulis puisinya.

Sejujurnya Saya agak kecewa dan bersedih hati. Loh kenapa pula harus kecewa dan bersedih hati? Begini saudara-saudaraku, kawan-kawan di kemudian.com. Kekecewaan dan kesedihan Saya, sebenarnya karena melihat keempat puisi tersebut jauh kualitasnya jika di bandingkan dengan puisi-puisi yang kuresensi pada acara perkosakata 2008 setahun yang lalu.

Ketiga puisi yang ketika itu menurut Saya telah memenuhi unsur-unsur sebuah puisi, yakni puisi sebagai bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan stuktur batinnya, ada baiknya ketiga puisi itu saya sertakan disini sebagai pembanding:

30 Oktober—
Kucari Engkau
telah kucari engkau sampai ke batasnya jingga. sampai ngiangnya camar berterbangan di telinga. sampai laut menjemput. sampai waktu tersudut. sampai kota berubah sunyi. dan langkahku segala bunyi. sampai padang ilalang. oleh hujannya gemintang. sampai aku merapuh. dan hilang.

telah kucari engkau sampai ke batasnya jingga. kucari engkau. kucari engkau.
dikirim ghe

31 oktober
Gadis Bunga
“Ini puisi yang kubuat waktu musim hujan, musim yang kusukai.”

Saat Bunga musim hujan berguguran
Saat itulah seluruh rapuh menggema
Aku tak lagi berharap
Akan bunga desember yang menantang
Akan kelopak-kelopak orangenya
Yang melegakan jiwa

Saat daun-daun kering berserakan
Saat itulah remuk menyeru
Aku tak lagi mengingat
Tentang harapan warna-warni cerah
Akan putihnya melati, atau merahnya mawar
Akan hijaunya daun dan lembutnya awan

Biarkan rindu yang datang
Biarkan sesak yang ada
Menyeruak dia antara tumpukan ranting pohon
Yang terkelupas kulitnya

dikirim mamotte_luna

01 November
kepada banyak pertanyaan
kau sebut aku dengan nama selain perempuan
mungkin ingin kau isyaratkan
bahwa kau bersungguh sungguh dengan keresahan

lalu kubuat sajak sajak jawaban
yang justru membuahkan pertanyaan

dalam renung
dahanmu kerap kupasung karena beburung tak mau terbang dari dahan tanjung…

lelaki…lelaki…
dapatkah kata meyakinkan hati
sedang langit dan lautan belum juga berpapasan
mereka saling dusta tentang mimpi dan realita

tapi aku akan mengelus kepala dan menidurkanmu dengan manja
di dada..?, kutanya

sambil kuceritakan sebuah musim yang hening juga panjang
dikirim kucing_betina

Kembali ke soal Puisi, sekali lagi saya mengutip pernyataan Presiden Penyair Sutardji Calsoum Bachi yang menyatakan bahwa: Puisi boleh dibuat seperti memotret kenyataan. Tapi puisi yang baik bukan potret yang datar. Ada nilai plus yang diharapkan bisa didapat ketika menatap atau membaca puisi potret tadi. Jika tidak maka pembaca tentu lebih suka menatap langsung pada kenyataan.

Puisi menurutnya juga boleh diniatkan kosong dari tema atau tanpa pesan. Puisi yang demikian ini bisa jadi hanya berupa rangkulan akrab terhadap ungkapan atau kata-kata, bahkan sekadar bunyi-bunyian dari kata-kata. Tapi jika dibuat padu dan utuh, terkendali, menarik dan cantik serta unik, maka pembaca akan segera sibuk mencarikan pesan atau makna pada sajak itu.

Sebaliknya, sajak yang mengandung pesan sebesar apapun jika ia tidak menghiraukan cara pengucapannya, takkan kunjung dianggap sajak yang berhasil. Terkait dengan itu, mari kita lihat keempat puisi yang membuat saya meracau tak karuan ini.

Mendayu Senja Pada Lipatan Usia Kekal oleh olief

subuh ini kubiarkan jadi pemancang hari
atas sajak rindumu yang kau hantarkan tadi malam
bersama bayu lewat bidadari pada celah mimpi
berawal membayang namun sedetik jadi mendalam

engkau tahu sadarku ini tak benar-benar menghilang
sekedar meracau tergelut deras aliran dunia
terpesona beribu ayat hampiri jiwa; hingga terlupa
melayang-layang asa hingga lelah berpetualang
sekejap mendesir rindu dari lantunan hatimu
kemudian mengendap mendekat dengan berharap
seraya berucap; masihkan kau sisakan kopi hangat senja itu

TANYAKAN PADA GERIMIS oleh Onik

Pelangi bertanya padaku
Apa warnamu, hujan?
Bukankah air itu tak berwarna
Bening, sebening hatiku
Bisakah kau lihat cintaku?

Dan pelangi kembali bertanya
Kenapa kau selalu menghindari aku, hujan?
Bukankah bila aku masih di sini,
kau tak kan datang
Jadi kenapa kau bertanya?

Lagi-lagi pelangi bertanya
Kapan kita bisa saling beriringan?
Bukankah seharusnya kau tahu jawabnya
Kita tak mungkin bersama
Sudahlah berhentilah bertanya!

Sebab kalau kau masih ragu
Tanyakan saja pada gerimis
Karena dialah yang terdekat denganmu

GOJEGER oleh just_hammam

Riuh malam yang semakin temaram membawaku terbang karena obat setan yang kutelan.
Ribut manusia seolah dunia ditangannya tak peduli tetangga ataupun orang lewat lainnya, gojeg saja.
Kuterbang dalam keriuhan menuju dunia khayalan yang takterjangkau tangan Tuhan, hanya aku dan setan.
Tiba-tiba sekejab mata, jika masih ada tenaga untuk mengejab, pandanganku berubah nyata.
Di selokan nafasku memburu bersama malaikat merenggut nyawa membiarkan raga terlunta.
Jiwa lebih merana dalam neraka nista tak berdaya, sumpah serapah pada setan yang tertawa-tawa gila..hahahaha

Sepenggal Kisah oleh 51-374

menyepi di jembatan dengan sorot mata memandang ke bawah. terdengar derasnya desiran ombak, bagai tetesan air mata rindu. sembari melihat bayanganmu.

disudut tiang sepi itu aku bersandar, lalu air laut menjelma menjadi kenangan perlahan menjauh dari bukit karang. seperti tak pernah lelah menghempas kisah kita.

ketika kegalauan datang mendera, dengan gelap sunyi. senyap tiada beda. serasa melanda kegelisahan hati. kalau pun tujuh purnama mampu menerangi hati. tapi sungguh, kemana belahan hati dibagi ?

ini sepenggal kisah kau beri padaku, takkala sakit hadir
aku: tak pernah mengejar pengakuan dosa

Banda Aceh ujung , Januari 2009

Jika dikaji secara estetik maupun tematik, maka keempat puisi tersebut di atas hanya memiliki kualitas estetik yang rata-rata. Bisa juga di bilang hanya merupakan akrobat kata-kata atau hanya berupa gumaman dan curhat yang biasa kita temui pada buku diary para remaja yang tengah jatuh cinta atau patah hati. Keempat puisi ini juga mengalami kemunduran kualitas jika dibandingkan dengan tiga puisi yang saya resensi di tahun 2008.

Puisi terbaik, menurut beberapa kalangan memiliki ciri-ciri yang luas, tidak lekang oleh waktu, dan memiliki gambaran umum bagi seluruh umat manusia. Kalangan lainnya lebih mementingkan kualitas dari fakta dan keindahan yang terkandung dalam puisi tersebut.

Pada hemat saya, puisi merupakan wahana sekaligus produk sebuah kontemplasi. Dalam kontemplasi, seorang penyair sudah tentu berusaha merapatkan diri pada hakikat: keindahan, kebenaran, kejujuran, kejernihan bahasa, dan seterusnya. Oleh karena itu, penyair selalu mencari kata sampai ke akarnya dengan penuh kesabaran, ketekunan, seleksi, dan usaha-usaha lain dalam berbahasa. Penyair yang baik tidak tergesa-gesa memilih kata, tidak tamak dan tidak mengumbar nafsu berkata-kata apalagi mengincar gelar dan popularitas.

Kepada kemudian.com, Saya menaruh harap agar dapat meningkatkan mutu para anggotanya. Ini terutama karena setelah dua tahun perjalanan, secara umum tidak memunculkan kualitas puisi yang lebih baik. Meskipun tidak dapat di pungkiri dan patut diacungi jempol bahwa beberapa nama yang lahir dari rumah kemudian seperti: Windry Ramadhina, Andi Taffader, Nisa Diani, kini mulai terdengar gaungnya di belantara sastra tanah air.

Selebihnya saya berharap kemudian.com tidak hanya menjadi tempat pamer atau tempat bermain semata, tetapi menjadi ruang belajar dan wadah untuk menggali literatur yang memungkinkan kita mendapatkan keluasan wawasan puitika.

Akhirnya saya mengucapkan selamat atar kerja keras kawan-kawan di kemudian.com, terutama pada semangatnya untuk membuka ruang bagi tumbuh dan berkembangnya sastra tanah air, terutama puisi.

Salam.

Banda Aceh, 19 Februari 2009

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: