Memuisikan Kenangan Ruang Waktu March 17, 2009
Posted by fortherose in Resensi Karya.trackback
Oleh Adi Toha
Jejak Kopi Yang Kulukiskan Di Lehermu oleh Arie O
Terhenti di Jimbaran oleh pikanisa
singgah di ‘ YK ‘ oleh kiki
Dari keempat puisi yang ditawarkan kepada saya, saya tertarik untuk memilih tiga di antaranya, yakni puisi dengan judul “Jejak Kopi Yang Kulukiskan di Lehermu”, “Terhenti di Jimbaran”, dan “Singgah di YK”. Bermain-main dengan kenangan atau ingatan akan sebuah ruang dan waktu, ketiganya memiliki nuansa puitik yang sama yang hendak dibangun oleh pengarangnya lewat barisan kata.
Seperti lazimnya puisi yang memuisikan kenangan akan sebuah tempat, akan terdapat beberapa unsur yang diwujudkan dalam pemilihan kata yang dipuisikan. Pertama adalah latar tempat di mana kenangan atau pengalaman puitik itu terjadi, selanjutnya adalah lanskap yang diadakan untuk menegaskan latar, kemudian adalah perasaan atau pengalaman mengada dalam ruang waktu yang dimaksudkan, dan terakhir adalah refleksi keinginan atau tujuan pengarang atas usahanya mengenang momen-momen tersebut, bisa untuk dirinya sendiri, untuk orang lain yang dimaksudkan pengarang, ataupun untuk pembaca secara umum.
Jejak Kopi Yang Kulukiskan Di Lehermu
Di warung kopi ini kau menjelma ingatan,
menyatu debu kursi kayu lapuk,
membayang tiang bambu apus,
pun menggelantung atap-atap rumbia.
Dulu, cangkir kita saling beradu,
berebut tempat dengan asbak abu.
Masihkah kau ingat sayang?
Jejak-jejak kopi kita bawa pulang,
kulukis di lehermu yang jenjang,
kupagut di bibirmu yang pilu.
Ingatkah kau, sayang??
Latar kenangan puisi di atas jelas: warung kopi. Selanjutnya pengarang menyajikan potret lanskap warung kopi: kursi kayu lapuk, tiang bambu apus, atap-atap rumbia, cangkir, dan asbak. Tentunya akan berbeda jika latar kenangan yang hendak dipuisikan oleh pengarang adalah sebuah kafe, restoran, atau tempat perjamuan lainnya. Dalam hal ini, pengarang hendak membawa imaji pembaca ke sebuah warung kopi sederhana di pinggiran kota, atau di sebuah kaki lima. Aku-lirik hendak membawa kau-lirik ke suatu pertemuan, bisa jadi adalah pertemuan pertama, atau pertemuan ke sekian kalinya. Pertemuan yang berlanjut dengan pagutan dan lukisan jejak kopi di leher kau-lirik.
Ingatkah kau, sayang??
Aku-lirik dan kau-lirik seakan tengah menghadapi sebuah konflik, sehingga aku-lirik harus meredam konflik itu dengan membawa kau-lirik untuk mengingat kembali sebuah peristiwa sederhana namun berarti bagi keduanya. Kesederhanaan, inilah mungkin yang dimaksudkan oleh pengarang lewat puisi ini. Suatu momen sederhana kadang bisa mempertemukan dan menyatukan dua orang dalam sebuah ikatan emosional, bahkan cinta, seperti aku-lirik yang menyebut kau-lirik dengan kata “sayang”.
Terhenti di Jimbaran
: YW
layaknya pijak jejak menancap
pada pepasir Jimbaran yang basah
apakah kenangan sekejap hilang
kita mengukir-ukir nama
pada prasasti waktu silam
menghirup aroma sate kurakura
terpanggang wangi aroma remaja
sejalan tepi Jimbaran
kutemui rumah kerang
elok nian bersiat-siut
seperti jelajah hatimu,
arungi lautan kedalamanku
kemudian langkah kita terhenti
antara batas cakrawala jingga
membaluri langit biru milikmu
surya merona malu
menguji kita untuk kembali
: ke pantaimu
Sby,020109
*Jimbaran : nama pantai di Kab. Badung, Bali
Latar kenangan puisi ini langsung terlihat dalam judul: Jimbaran, yakni sebuah pantai di Badung, Bali. Mengingat pantai, tentu tak lepas dari pasir, pesisir, senja, rumah kerang, cakrawala jingga, langit biru, dan lanskap khas yang disampaikan untuk menegaskan ke-Jimbaran-an kenangan itu. Mungkin dalam hal ini adalah sate kura-kura. Mohon maaf, saya belum pernah ke Jimbaran, sehingga tidak tahu apa lanskap yang benar-benar Jimbaran.
Mungkin itulah kekurangan puisi di atas: lanskap yang benar-benar Jimbaran. Jika Jimbaran dalam judul puisi di atas diganti dengan Pangandaran, misalnya, atau Kuta, atau nama pantai lainnya, maka akan dengan mudah membawa imajinasi pembaca ke nama pantai yang dimaksud. Sate kura-kura mungkin bisa ditemui di pantai lain, tidak hanya di Jimbaran.
Akhirnya, puisi di atas menjadi sekedar kenangan subjektif pengarangnya akan sebuah peristiwa pada suatu waktu saat aku-lirik merasakan momen penyatuan dengan kau-lirik, yang terungkap lewat baris:
kutemui rumah kerang
elok nian bersiat-siut
seperti jelajah hatimu,
arungi lautan kedalamanku
Di sisi lain, ingatan akan momen penyatuan itu juga menyiratkan harapan atau keinginan untuk mengakrabi kembali peristiwa lain di balik itu,
menguji kita untuk kembali
: ke pantaimu
Bagaimana mungkin ketika aku-lirik tengah mengakrabi pesisir pantai, tetapi masih ingin kembali ke pantai? Tentu saja pantai yang kedua bukanlah pantai kasat mata, melainkan pantai kau-lirik, yang pada suatu ketika menyatu dengan lautan kedalaman aku-lirik.
Singgah di ‘ YK ‘
pada jantung kota nyamanmu detak selingkar kisah
telah binasa, sekarat terinjak sekat jarak
seraut muka meminta belas iba pada pelepah waktu
beri katup pada airmata agar tak bebas terburai
untuk sejenak menyusuri pesisir malam di kota tuamu
suasana teduh menyapa di sisi ramai jalanan
jejeran gedung-gedung usang saksikan
sepasang kaki berjalan tersaruk-saruk lunglai
raut lusuh kenyang menganyam kenang
setiap sudut angkringan remang
jamukan pekat pahit di segelas susu jahe yang terteguk
aroma pedih kesendirian terbungkus di pincuk-pincuk nasi sambal
lalu lalang bayang temaram
memarkan rindu hinga biru lebam
ada hembus nafasnya menyatu bersama angin
menerpa muka sendu tergugu bersama hening
kelu membeku utuh di rongga-rongga dada
menuju usai lara ingatan jelang sang pagi
Seperti pada puisi Terhenti di Jimbaran, puisi “Singgah di YK” mengungkapkan hal serupa, kenangan akan sebuah kota, beserta seluruh kehadiran aku-lirik di dalamnya. Aku-lirik berusaha memotret kehadiran itu dalam baris-baris yang mengungkapkan lanskap kota yang dimaksud. Angkringan, pincuk-pincuk nasi sambal, susu jahe, barangkali dimaksudkan oleh aku-lirik untuk mempertegas kehadirannya di jogja.
Kehadiran aku-lirik di kota itu barangkali hendak melupakan (atau mengingat kembali?) sesuatu yang pernah ada bersama kota itu dalam dirinya. Puisi ini menjadi menarik, karena dalam setiap bait, aku-lirik memadukan lanskap kota dengan lanskap diri,
seraut muka meminta belas iba pada pelepah waktu
beri katup pada airmata agar tak bebas terburai
…
sepasang kaki berjalan tersaruk-saruk lunglai
raut lusuh kenyang menganyam kenang
…
lalu lalang bayang temaram
memarkan rindu hinga biru lebam
…
kelu membeku utuh di rongga-rongga dada
menuju usai lara ingatan jelang sang pagi
Pertemuan dan perpisahan, dua kutub yang saling mengintai satu sama lain. Saya jadi teringat apa yang dituliskan Jostein Gaarder dalam salah satu novelnya, bahwa ketika kita memilih untuk hadir di suatu tempat di dunia ini, kita juga memilih untuk meninggalkannya lagi suatu hari nanti. Kenangan, itulah yang kita catat dalam ingatan; dan harapan untuk hadir kembali suatu ketika nanti. Warung kopi, Jimbaran, YK, adalah kontinum ruang waktu yang suatu ketika pengarang pernah hadir dan mengada di dalamnya, dan suatu ketika pernah ditinggalkannya pula. Meskipun terlihat personal, namun ketiga puisi di atas cukup kuat untuk mengundang pembaca untuk ikut merasakan kehadiran dan kepergian, kebersatuan dan keterpisahan.
Kenangan, sesuatu yang sekejap ada, sekejap menghilang, seperti jejak-jejak di pasir yang dalam sekejap musnah dijilat lidah ombak. Kenangan -meminjam larik Goenawan Mohammad- bisa jadi adalah sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi. Itulah mungkin yang hendak disampaikan dalam ketiga puisi di atas, mencoba mengabadikan kenangan dalam baris-baris puisi, tak lebih.





pertemuan dan perpisahan
saya baru tahu kalo karya saya di resensi ..
duh bego bangt
hehehe… ngga bego kok, ki^^. selamat ya, karyanya diresensi
resensi singkat yang padat